2 Situasi Yang Bisa Menghasilkan Duit Bagi Penulis


Saya terkadang “merasa iri” dengan orang-orang yang berada pada “kondisi yang sangat menguntungkan” untuk bisa menulis yang akan banyak dibaca orang dan bahkan bisa menghasilkan duit dari kondisinya tersebut.

Pengen tahu kondisi apa saja yang menguntungkan tersebut?
Pertama, adalah kondisi saat anda berada pada “budaya dan lokasi asing”.

Budaya dan lokasi asing yang bagaimana?

Yaitu budaya yang “asing bagi pembaca anda”, artinya budaya atau lokasi suatu tempat yang banyak dari target pembaca anda yang belum mengetahuinya.

Jadi, yang saya maksud budaya dan lokasi asing tersebut - tidak harus anda berada di luar negeri , tetapi bisa saja di dalam negeri kita sendiri tetapi masih sedikit atau bahkan belum ada yang mengulas tentang hal tersebut.

Lantas apa saja yang bisa diulas dari budaya dan lokasi asing tersebut?
Banyak sekali, mulai dari hal-hal remeh-temeh seperti kebiasaan masyarakat daerah tertentu yang cukup unik dan bahkan bisa dibilang nyeleneh dibandingkan budaya di tempat anda tinggal, kondisi alam, tentang cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-harinya, sampai masalah makanan dan mungkin “kemajuan teknologi canggih” yang ada di daerah tersebut.

Saya punya pengalaman yang cukup unik ketika saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekitar 20 tahun yang lalu. Di desa Kalisari, kecamatan BanyuGlugur, sebuah desa yang berada di puncak gunung kapur yang letaknya tepat di atas PLTU Paiton Probolinggo. 

Masyarakat di sana pantang minum es degan (kepala muda), padahal di sana sangat banyak sekali tumbuhan kelapa. Teman-teman KKN saya sangat suka sekali minta degan kepada warga disana, dan warga disana dengan suka cita memanjatkan beberapa buah degan hijau yang masih segar untuk di nikmati bersama-sama. Tetapi ada satu hal yang membuat kami heran adalah ketika masyarakat sana terheran heran ketika kami rela berpayah-payah turun ke bawah gunung sejauh 15 kilometer untuk membeli es batu (balok) – maklum di desa tersebut tidak ada aliran listrik.

Ketika teman-teman meminum es degan yang sangat lezat tersebut, masyarakat pada terbengong-bengong. Kamipin juga terbengong-bengong keheranan mengapa masyarakat desa tersebut tidak mau menikmati es degan yang kami buat dan kami usahakan bersusah payah. Misteri tersebut terpecahkan di akhir bulan ke 2 saat kami hendak mengakhiri KKN, ternyata pernah ada kejadian ada seorang yang meninggal gara-gara minum es degan! Dan sejak saat itu mereka tidak berani lagi menikmati es degan. Oalaaa…

Ya, masih banyak lagi, hal-hal unik, konyo, lucu dan bahkan mungkin menyeramkan yang menjadi budaya suatu masyarakat yang belum banyak di ketahui pembaca.

Kalau anda berhasil mengeksplorasi hal-hal semacam ini, maka saya yakin banyak sekali orang yang akan menanti tulisan-tulisan anda. Jadi tidak heran kalau suatu ketika anda naik pesawat dan saat anda membaca majalah yang ada di kursi pesawat tersebut dan menemukan sebuah artikel tentang perjalanan yang isinya seperti yang saya tuliskan yang ditulis oleh seorang “Profesional Traveller”. Baru dengar istilah Profesional Traveller?

Ya, itu adalah seorang yang pekerjaannya “jalan-jalan” dan dari jalan jalannya itu dia membuat reportase dari tempat yang dia kunjungi dan dari sana dia mendapatkan uang. Tidak hanya itu dia bisa saja dikontrak perusahaan tertentu untuk melakukan perjalanan dan tentu saja seluruh perjalanannya biayai, mendapat uang saku dan tentu saja mendapatkan honor dari perjalanannya itu.

Saya punya kenalan seorang blogger yang hobinya jalan-jalan berwisata kuliner. Suatu ketika, saat dia ada “tugas” dari sebuah perusahaan kecap nasional yang sedang mengadakan festival selama beberapa hari di Malang, dia mengajak bertemu saya. Saya menemuinya di sebuah hotel berbintang yang berada di kawasan elit di kota Malang. 

Setelah ngobrol kesana kemari, dia cerita bahwa tugasnya tersebut meliput festival dari perusahaan yang mensponsorinya dan dia diperbolehkan mengajak istri dan dua orang anaknya selama beberapa bertugas. Dan di dia berbisik jika honor yang dia terima “Cuma sebesar setengah dari harga sebuah mobil baru” .

Nah, menurut anda berapa besarnya honor kawan saya tersebut? 

 **** 
Bersambung, insyaAllah

Tidak ada komentar